Oleh
Erni Gustien Virgianti
A. Pendahuluan.
Manusia adalah obyek dari filsafat sekaligus merupakan subyek yang melakukan kegiatan filsafat termasuk didalamnya adalah diriku. Berfilsafat melingkupi segala yang ada dan yang mungkin ada, fisik maupun yang metafisik, kejadian yang nyata (fenomena) maupun noumena. Cara berpikir filsafat dilakukan secara analitis dan sintesis.
Matematika merupakan hasil dari proses berpikir manusia, yang sudah ada sejak zaman yunani kuno pada zaman Socrates, Plato dan Aristoteles. Matematika hadir sebagai proses dari berpikir manusia begitu pula dengan pendidikan matematika yang juga merupakan hasil berpikir manusia yang semuanya berkembang dalam perspektif ruang dan waktu. Semuanya berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan manusia.
B. Diriku dan Filsafat
Diriku dalam perpektif ruang dan waktu merupakan mahluk yang multifaset memiliki peran yang banyak dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan social. Sebagai manusia individu diriku adalah bagian dari penciptaan Allah SWT yang diciptakan sebagai mahluk yang paling mulia karena dibekali akal, karena itu diriku adalah salah satu mahluk yang ciptakan dan sangat rentan dengan godaan setan. Memiliki akal membuat diriku mampu membedakan mana yang baik dan mana yang benar, sebagai manusia diriku sesungguhnya adalah bagian dari ketidakadila yang hanya mampu melakukan dan berpikir satu hal saja dalam satu waktu. Sebagai manusia maka diriku harulah dapat hidup harmoni dengan yang lain. Manusia untuk menggapai dimensinya menjadi manusia yang berilmu dan bernurani memerlukan olah pikir yang baik salah satunya adalah dengan berfilsafat.
Pada ruang dan waktu tertentu diriku sebagai bagian dari manusia merupakan obyek sekaligus subyek dalam berfilsafat. Jika diriku sebagai obyek maka diriku adalah bagian dari obyek pikir filsafat dalam hal ini adalah sebagai obyek material. Tetapi jika diriku adalah subyek dari filasafat maka filsafat adalah suatu olah pikir yang dapat dilakukan diriku untuk mengkaji semua yang ada dan yang mungkin ada. Dengan berfilsafat berarti diriku belajar untuk berpikir secara analitis dan sintesis, berfilsafat diriku untuk merefleksikan diri untuk menyadari diri bahwa diriku adalah seorang hamba Allah SWT dan sebagai mahluk yang diciptakan Allah maka dimensi tertinggi yang ingin dicapai adalah beriman dan bertakwa yang termasuk didalamnya menjadikan diriku sebagai manusia yang berilmu dan bernurani.
C. Matematika dan Filsafat
Matematika mulai dikenal sejak ratusan ribu tahun sebelum masehi dan kemudian berkembang dari zaman ke zaman sampai kemudian pada matematika modern. Kata Matematika berasal dari bahasa latin mathematika yang diambil dari bahasa yunani mathematike yang berarti mempelajari. Kata matematika juga berhubungan dengan kata yang lainnya yaitu mathein atau mathein yang berarti belajar(berpikir)[1][1].
Ada banyak pengertian yang diberikan oleh banyak pemikir matematika[2][2] namun menurut diriku titik awal matematika yang sekarang berkembang dimulai dari zaman yunani kuno. Pada zaman telah mengenal matemtika dengan baik misalnya Thales yang menggunakan geometri bahkan menurunkan 4 akibat wajar dari teorema thales, selain itu ada juga nama Phytagoras yang mendirikan mashab Pythagoras yang mendakwakan matematikalah yang menguasai semesta. Eudoxus mengembangkan metode kelelahan yang merupakan dasar dari integral modern. Eulides yang teoremanya masih digunakan sampai saat ini. Aristotelis dikenal sebagai bapak logika karena memulai hokum logika[3][3]. Aristotelis merupakan murid dari Plato yang seorang phytagorian, selanjutnya diteruskan oleh Hilber dan Godel.
Selanjutnya matematika yang dikembangkan dengan Platonism dan Aristotelian. Menurut plato matematika bersifat absolute, ideal, abtrak dan bersifat tetap, karenanya matematika tidak adalah yang cacat. Pendapat plato ini kemudian melahirkan aliran absolutism atau idealism. Aliran Platonism inilah yang dianut oleh sebagian besar matematikawan murni (di Perguruan Tinggi). Sementara Aristolelis mengembangkan matematika empiris yang menurutnya matematika dibangun berdasarkan pengalaman. Ciri-ciri matematika yang dikembangkan oleh Aristotelian adalah kongrit dan relative, pendapat ini kemudian memunculkan aliran Empiriscm yang merupakan cikal bakal matematika di Sekolah[4].[4] Matematika yang dikembangkan oleh Platonism yang formalism lebih banyak diterapkan ditingkat perguruan tinggi.
Menurut Shirley dalam Marsigit matematika dapat digolongkan menjadi formal dan nonformal. Terapan dan murni. Matematika formal - murni merupakan matematika yang dikembangkan di universitas dan sekolah, matematika formal-terapan, yaitu yang dikembangkan dalam sekolah mapun diluar sekolah. Matematika informal murni dikembangkan diluar instantsi pendidikan, dan matematika informal-terapan matematika yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari[5].[5]
Hubungan filsafat dan matematika.
Hakekat mempelajari matmatika adalah mempertemukan pengetahuan subyektif dan obyektif matematika melalui interaksi social untuk menguji dan merefresentasikan pengetahuan-pengetahuan baru yang telah diperoleh olehnya.
Matematika dan filsafat adalah dua hal yang tidak terpisah dari dulu kala. Matematika merupakan sumber inspirasi bagi para filsuf dan metodenya sering diadopsi untuk mendiskripsikan pemikiran filsafat. Matematika digunakan oleh para filsuf untuk membangun teori pengetahuan dan penalaran. matematika dan filsafat mempunyai derajat yang sama ketika melakukan penelaahan yatitu kesamaan antara obyek, sifat-sifat obyek, logika, sistem-sistem, makna kalimat, hukum sebab-akibat, paradoks, teori permainan dan teori kemungkinan[6].[6]
Matematika adalah himpunan dari nilai kebenaran yang terdiri dari teorema-teorema beserta buktinya. Dan filsafat matematika muncul ketika kita meminta pertanggungjawaban akan kebenaran matematika[7].[7]
D. Diriku dan matematika
Matematika adalah aktivitas diriku, disadari atau tidak sebaliknya kegiatan-kegiatanku adalah aktivitas dari matematika. Matematika ada karena pola pikir dari manusia dan matematika ada untuk memberikan manfaat bagi manusia khususnya diriku. Dengan matematika manusia khususnya diriku memanfaatkan matematika diantaranya untuk membantu diriku dalam bidang perdagangan dan perekonomian serta membantu diriku untuk dapat berpikir secara logis dan matematis. Dengan bilangan diriku dapat menentukan kuantitas, dengan himpunan diriku berkelompok dan bersosialisasi. Dengan adanya matematika pula maka diriku dapat dengan mudah melakukan perhitungan dengan alat seperti kalkulator maupun computer[8].[8]
E. Pendidikan Matematika dan Filsafat
Dalam pendidikan modern dikenal beberapa alairan antara lain progresivisme, essensialisme, perennialisme dan rekontruksionalisme. Dalam pandangan ontologis, menurut aliran progressivisme, kenyataan alam semesta merupakan kenyataan kehidupan manusia. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia terhadap segala sesuatu. Ontologi essensialisme adalah konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata nilai yang tiada tercela maksudnya bagaimana bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita manusia harus sesuai dengan alam. Ontologism dari perennialisme terdiri dari penertian seperti benda, individual, essensi aksiden, dan subtansi. Aliran rekontruktruksionalisme memandang bahwa realita bersifat universal[9].[9]
Pendidikan matematika adalah alat yang dapat digunakan untuk membudayakan atau dengan kata lain melestarikan matematika. Untuk pendidikan di Indonesia matematika sudah dikenalkan sejak usia dini dilanjutkan sampai dengan sekolah menengah. Membicarakan pendidikan matematika berarti kita akan bicara banyak tentanghubungan siswa dan cara pengajarannya disekolah. Pendidikan matematika disekolah dikembangkan berdasarkan aliran empiriscm Aristoteles.
Menurut Ebbut dan Straker[10][10] matematika sekolah adalah matematika adalah kegiatan penelurusan pola atau hubungan, matematika adalah kegiatan problem solving, matematika adalah kegiatan investigasi dan komunikasi.
Selanjutnya proses dalam pendidikan matematika didasari oleh filsafat pendidikan matematika. Filsafat pendidikan matematika mempersoalkan permasalahan-permasalahan sebagi berikut : Sifat-sifat dasar matematika,Sejarah matematika, Psikologi belajar matematika , Teori mengajar matematika, Psikologis anak dalam kaitannya dengan pertumbuhan konsep matematis,Pengembangan kurikulum matematika sekolah, Penerapan kurikulum matematika di sekolah.
F. Diriku dan Pendidikan Matematika.
Multifacet diriku yang lain dalam perspektif ruang dan waktu yang lain adalah sebagai guru. Guru memegang peranan yang penting dalam kemajuan pendidikan Matematika dan salah satu factor yang mendukung bahkan menjamin keberlangsungan dari membudayakan matematika. Sebagai guru maka diriku adalah seorang guru yang harus memberikan kesempatan pada siswanya untuk dapat berkembang, mengkontruksi sendiri pengetahuan dan menganggap mereka adalah sebagai orang yang sudah memiliki pengetahuan. Diriku sebagai guru juga seharusnya memberikan kesempatan pada siswa-siswaku untuk dapat berinteraksi didalam proses belajar mengajar yang terjadi dikelas.
Sebagai seorang guru diriku haruslah menyadari bahwa hak yang dimiliki oeh diriku dibatasi oleh hak-hak siswaku, selain dari itu diriku haruslah meningkatkan dimensi dengan terus belajar untuk memperbaiki diri menghindarkan diri dari ruang dan waktu yang gelap. Sehingga sebagai guru diriku dapat menjadi seorang yang professional.
Daftar Referensi
[1] Hakekat matematika dan pembelajarannya di SD
[2] http://marsigitphilosophy.blogspot.com/2008/12/pondasi-matematika-dari-plato-sampai.html
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_matematika
[5] Marsigit Revitalisasi pendidikan Matematika_Varidika Jurnal_ Surabaya
[6] http://marsigitphilosophy.blogspot.com/2008/12/hubungan-antara-filsafat-dan-matematika.html
[7] Marsigit Membudayakan Matematika Sekolah Untuk Mencapai Keunggulan Bangsa.
[8] http://www.anneahira.com/ilmu/manfaat-ilmu.htm
[9] Prof. Dr H. Jalaluddin & Prof Dr H.Abdullah Idi, M.ED. Filsafat pendidikan (manusia Filsafat dan pendidikan) Rajawali Pers:Jakarta
[1] Hakekat matematika dan pembelajarannya di SD
[2] http://marsigitphilosophy.blogspot.com/2008/12/pondasi-matematika-dari-plato-sampai.html
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_matematika
[5] Marsigit Revitalisasi pendidikan Matematika
[6] http://marsigitphilosophy.blogspot.com/2008/12/hubungan-antara-filsafat-dan-matematika.html
[7] Marsigit Membudayakan Matematika Sekolah Untuk Mencapai Keunggulan Bangsa.
[8] http://www.anneahira.com/ilmu/manfaat-ilmu.htm
[9] Prof. Dr H. Jalaluddin & Prof Dr H.Abdullah Idi, M.ED. Filsafat pendidikan (manusia Filsafat dan pendidikan) Rajawali Pers:Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar