Minggu, 01 Januari 2012

Metafisika Filsafat


ERNI GUSTIEN VIRGIANTI
PPS UNY 2011 PMAT  A(11709251046)


Filsafat sesungguhnya bagian dari keseharian kita, pengetahuan yang kita dapatkan sehari-hari direfleksikan secara filosofi oleh karena itu Filsafat bertujuan merefleksikan realitas secara mendalam untuk menemukan jawaban-jawaban final mengenainya. Filsafat mempertanyakan dan merefleksikan realitas, termasuk kesadaran manusia sendiri yang merefleksikan realitas tersebut. Pengetahuan yang dihasilkan dari refleksi yang radikal, kritis, dan mendalam terhadap realitas, termasuk kesadaran subjek berpikir itu sendiri disebut pengetahuan filosofis. Filsafat berbeda dengan agama, Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatiku. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.
Terima kasih untuk semua ilmu yang bapak berikan melalui perkuliahan maupun elegy-elegi yang bapak tulis, semoga kelak dengan belajar filsafat kami bisa membuat langkah kami menjadi lebih baik dari saat ini.

Elegi Tasyakuran Spiritual Ketiga (Proyek Syurga)

ERNI GUSTIEN VIRGIANTI
PPS UNY 2011 PMAT A (11709251046)

Saya teringat cerita tentang seorang ahli ibadah, yang menyendiri agar dapat beribadah. Setiap sore, Allah memunculkan buah delima pada pohon ditempat dia beribadah sebagai makanannya, hingga diakhirnya dia bertenu dengan Allah pada yaumul mizan.
Bagitu hamba tersebut dihadapkan, tanpa acara penimbangan amal, Allah berkata, “malaikat, masukkan hambaKu ke surgu dengan rahmatKu” Mendengar itu, si hamba merasa tersinggung, dia keberatan dimasukkan ke surga karena rahmat Allah, dia merasa telah beribadah sepanjang hidupnya, dia tidak merasa berbuat maksiat. “Seharusnya aku masuk surga karena amal ibadahku” katanya, dan dia enggan masuk surga jika karena rahmat Allah. Demikianlah kejadian tersebut berulang tiga kali, lalu Allah berkata “Malaikat, masukkan orang ini kedalam Neraka karena murka ku”. Mendengar kalimat ini, si hamba lebih sewot dan minta keadillan, minta ditimbang amalnya. Allah menyetujuinya. Dipasang seluruh amalnya di salah satu sisi mizan, dan di sisi lainnya dipasang rahmat Allah yang telah dia terima melalui matanya saja. Melihat seluruh amalnya seumur hidupnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rahmat Allah, pada pandangannya saja, si hamba tak sanggup berdiri lagi.
Elegy ini mengingatkan saya pada cerita tersebut, bahwa seluruh ibadah kita semata-mata untuk mencapai rido dan rahmat Allah.

Elegi Tasyakuran Spiritual Ke Dua (Proyek Syurga)

ERNI GUSTIEN VIRGIANTI
PPS UNY 2011 PMAT A (11709251046)

Salawat dan salam atas Nabi dan keluarganya, yang telah mengantarkan kepada kita jalan keselamatan.
Saya tertarik pada bagian yang ke limabelas, yaitu Tidak Marah Kecuali Karena Allah, karena ini merupakan hal yang gampang-susah. Betapa ketika kita harus menahan diri untuk tidak marah, ketika bukan kerena alas an itu. Saya kemudian memahami, bahwa marah itu tiada guna (selain marah yang karena Allah). Marah merupakan bentuk kesombongan diahadapan Allah, karena kita merasa diri kita baik dan orang yang kita marahi itu buruk. Nabi berpesan kepada sahabatnya untuk tidak marah, dan mengulangnya tiga kali. Marah akan membuat pelakunya berbuat sesuatu yang lebih dari seharusnya, marah membuka pintu bagi setan untuk menguasai akal sehat kita. Marah akan membuat kita menyesal setelah kemarahan itu hilang. Semoga kita bisa menahan diri dari marah, kecuali marah kerena Allah.

Elegi Ritual Ikhlas IV Enggan Pulang dan Ingin Mati?

ERNI GUSTIEN VIRGIANTI
PPS UNY 2011 PMAT A (11709251046)


Kematian adalah hal yang pasti bagi setiap makhluk yang bernyawa. Kematian tidak dapat dimajukan dan tidak dapat dimundurkan waktunya walau sesaat. Tiadalah seorang akan lebih cepat mati karena barangkat “perang”,  karena banyak juga yang mati diatas kasur. Tidaklah orang yang sudah tua akan lebih cepat dijemput nyawanya, karena yang masih muda, masih remaja, masih anak-anak, masih bayi, baru lahir, bahkan sebelum lahirpun, jika memang sudah waktunya, sang penjemput akan menemui.
Semoga ketika waktu itu tidak, kita kembali dalam keadaan husnulkhotimah, semoga ketika masa itu tiba, jiwa kita tergolong jiwa yang mutmainnah, yang kembali kapada Rab kita dengan ridho dan diridhoi, tergolong sebagai hambanya, dan dimasukkan kedalam surge-Nya dengan rahmat-Nya. Amiin.

Elegi Ritual IKhlas IV Bermunajat Kepada Allah SWT

ERNI GUSTIEN VIRGIANTI
PPS UNY 2011 PMAT A (11709251046)

Amiin.
Do’a merupakan bentuk komunikasi antara hamba dan penciptanya.
Berdo’a adalah wujud pengakuan manusia, bahwa kita adalah hamba yang tidak memiliki daya dan upaya melainkan dengan kehendak Allah, dan Allah adalah sumber dari segala sesuatu, tidaklah suatu kejadian menimpa kita melainkan sudah kehendaknya, dan tidaklah suatu kejadian tidak menimpa kita melainkan karena Allah telah menjauhkannya dari kita.
Saya merasakan bahwa do’a diatas adalah gambaran dari rukun islam, yaitu persaksian tiada tuhan selain Allah dan Muhammad saw sebagai rasulnya, pengharapan untuk dapat menunaikandan menjaga shalat dan membayar zakat, berpuasa dan berhaji yang tergambar pada seluruh do’a.